Seorang pasien yang sedang menjalani prosedur cuci darah (dialisis)

Jumat, 20 Desember 2019

Cuci Darah

Link Sehat - Cuci darah (dialisis) adalah proses penyaringan zat sisa, garam, dan cairan pada darah menggunakan alat bantu. Prosedur ini dilakukan jika ginjal sudah tidak bisa berfungsi optimal untuk menyaring zat-zat sisa.

Dialisis dilakukan melalui dua cara, yaitu dari dalam tubuh menggunakan selaput rongga perut (peritoneal dialysis) dan di luar tubuh menggunakan mesin cuci darah (hemodialisis). Cuci darah dilakukan untuk menghindari menumpuknya zat sisa metabolisme yang dapat berbahaya bagi tubuh sehingga dapat memperpanjang harapan hidup, bukan untuk menyembuhkan gagal ginjal.

Cuci darah dianjurkan bagi Anda yang mengalami gagal ginjal tahap akhir. Artinya, ginjal sudah tidak bisa menyaring darah sehingga racun menumpuk di dalam tubuh.

Mengapa perlu cuci darah?

Dialisis dilakukan untuk membantu fungsi ginjal dalam menyaring zat-zat sisa, agar tidak menumpuk dan menimbulkan kerusakan pada tubuh.

Lama waktu cuci darah bergantung pada kondisi Anda. Dalam beberapa kasus, misalnya gagal ginjal sementara, dialisis bisa dihentikan setelah fungsi ginjal kembali. Namun jika Anda mengalami gagal ginjal kronis dengan kondisi akut, cuci darah terus dilakukan sampai operasi cangkok ginjal (transplantasi ginjal) dapat dilakukan. Operasi cangkok ginjal adalah pengobatan yang sesungguhnya untuk gagal ginjal tahap akhir. Namun, metode pengobatan akan disesuaikan dengan kondisi pasien.

Bagaimana prosedur cuci darah dilakukan?

1. Hemodialisis

Prosedur ini menggunakan ginjal buatan (dialyzer) untuk menyaring zat-zat sisa dalam darah, seperti ureum, kreatinin, kalium, dan cairan berlebih. Material penting lain yang berukuran besar biasanya tetap berada dalam darah karena tidak bisa melewati membran, seperti sel darah dan protein.

Sebelum prosedur cuci darah dilakukan, dilakukan operasi kecil untuk membuat akses ke pembuluh darah. Hal ini bertujuan agar darah bisa masuk ke dalamdialyzer.Selanjutnya, alat cuci darah akan memompa darah dan mengembalikannya ke tubuh. Selama proses berlangsung, tekanan darah dan kecepatan aliran darah selalu dipantau.

Prosedur hemodialisis dapat menimbulkan efek samping, diantaranya tekanan darah terlalu rendah/tinggi, mual dan muntah, anemia, kulit gatal, serta kram otot.

2. Dialisis peritoneal

Pada prosedur ini, proses pencucian darah dilakukan melalui selaput rongga perut (peritoneum). Akses ke rongga perut dibuat dengan memasang selang khusus di perut, dinamakan kateterTenckhoff melalui tindakan operasi. Selang ini bermanfaat untuk memasukkan cairan ke perut. Setelah akses masuknya ditutup, Anda bisa beraktivitas seperti biasa.

Cairan tersebut berfungsi untuk menyerap zat racun dan cairan berlebih dari dalam tubuh. Setelah beberapa jam, zat sisa dan cairan dialisis akan diambil dan dibuang dari tubuh dengan membuka tutup kateter Tenckhoff. Proses ini dilakukan sebanyak 4-6 kali sehari.

Metode ini dapat menimbulkan efek samping berupa peritonitis (kondisi ketika bakteri menyebar ke lapisan perut/peritoneum), kenaikan berat badan, dan hernia.

Bagaimana pemulihan pasca cuci darah ginjal?

Setelah cuci darah, Anda mungkin merasa lelah dan letih, yang tak jarang mengganggu aktivitas sehari-hari. Namun, rasa letih biasanya akan hilang seiring waktu.

Untuk membantu proses pemulihan, Anda juga perlu menjaga pola makan dan minum obat sesuai anjuran dokter. Sebaiknya segera bicara pada dokter jika timbul efek samping setelah menjalani prosedur cuci darah.

Haruskah saya melakukan cuci darah seumur hidup?

Jawabannya, tergantung pada tingkat fungsi ginjal yang masih tersisa.

Pada kondisi tertentu, cuci darah cukup dilakukan beberapa kali, kemudian dapat dihentikan ketika fungsi ginjal pulih. Namun pada kasus gagal ginjal kronis tahap lanjut, biasanya cuci darah berlangsung terus-menerus sambil menunggu adanya ginjal pengganti, misalnya melalui tindakan transplantasi ginjal.

Jika Anda ingin menghentikan cuci darah, sebaiknya berkonsultasi dulu ke dokter karena penghentian secara paksa dapat mengakibatkan penumpukan zat-zat sisa berbahaya bagi tubuh. Hal ini berdampak pada perubahan fisik dan emosional, antara lain:

  • Kehilangan nafsu makan
  • Tidur sepanjang hari
  • Mudah gelisah
  • Kebingungan
  • Napas tidak teratur (lebih lambat atau lebih cepat)
  • Perubahan warna dan suhu kulit

Gejala-gejala di atas akan semakin memberat sampai pada tahap berbahaya apabila cuci darah tidak dilanjutkan kembali. Obat-obatan mungkin akan diberikan sementara waktu untuk mengurangi gejala yang muncul.

Jika Anda atau ada anggota keluarga yang membutuhkan prosedur cuci darah, Anda bisa menghubungi Medical Consultant kami di sini untuk mendapatkan rekomendasi Rumah Sakit dan menghitung perkiraan biaya perawatan yang dibutuhkan.

Konsultasi Gratis
Butuh rekomendasi dokter/rumah sakit, estimasi biaya berobat, dan paket medical check up untuk keluhan Anda? Hubungi Medical Consultant kami.

Mayo Clinic. Patient Care & Health Information. Tests & Procedures. Hemodialysis.
NIH
. (2018). National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases. Hemodialysis.
NIH. (2018). National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases. Peritoneal dialysis.
WebMD. A to Z guides. Kidney dialysis.


Author dr. Elrika Anastasia W. dr. Elrika Anastasia W.
Reviewed by dr. Winner NG dr. Winner NG

Nilai Artikel Ini

Artikel Terkait

Gagal Ginjal Kronis

Gagal ginjal kronis terjadi akibat penurunan fungsi ginjal dalam menyaring zat sisa dari darah Baca Selengkapnya...

Transplantasi Ginjal

Transplantasi ginjal adalah prosedur bedah untuk mengganti organ ginjal yang rusak akibat gagal Baca Selengkapnya...