Penyakit A-Z

All abcdefghijklmnopqrstuvwxyz #
Difteri

Difteri

Difteri adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri pada hidung dan tenggorokan.

Difteri termasuk penyakit menular berbahaya dan berpotensi mengancam nyawa, tetapi bisa dicegah melalui imunisasi. Centers for Disease Control and Prevention (CDC) merekomendasikan vaksinasi untuk anak, remaja dan dewasa untuk mencegah difteri.

Kasus difteri sempat tidak terdengar lagi sejak ditemukannya vaksin, namun pada tahun 2018, beberapa negara melaporkan lebih dari 16.000 kasus difteri pada badan kesehatan dunia (WHO), termasuk Indonesia.

Gejala difteri

Secara umum, difteri dapat menyebabkan gejala berikut :

  • Lemas
  • Nyeri tenggorokan
  • Demam ringan
  • Kelenjar di leher membengkak
  • Suara serak
  • Sulit bernafas
  • Keluar cairan di hidung
  • Muncul selaput abu-abu tebal pada tenggorokan dan amandel

Infeksi bakteri penyebab difteri akan menghasilkan racun yang dapat membunuh jaringan sehat pada sistem pernafasan. Dalam 2-3 hari, jaringan yang mati akan menghasilkan selaput abu-abu tebal disebut denganpseudomembran.Pseudomembran ini biasa terdapat di hidung, amandel, pita suara, dan tenggorokan sehingga bisa membuat sulit bernafas dan sulit menelan.

Jika racun masuk ke peredaran darah, dapat menyebabkan kerusakan hati, saraf dan ginjal.

Selain sistem pernafasan, difteri juga dapat menginfeksi kulit. Hal ini akan menyebabkan gejala luka pada kulit. Luka khas difteri yaitu luka yang diselubungi dengan selaput abu-abu.

Penyebab difteri

Difteri disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheriae. Bakteri ini menghasilkan racun yang menyebabkan gejala gangguan bernafas, gagal jantung, kelumpuhan (paralisis) hingga kematian.

Bakteri dapat menyebar antar manusia melalui percikan air ludah/lendir (droplet) saat penderita batuk/bersin. Anda berisiko tinggi terkena difteri jika:

  • Tidak melakukan vaksinasi sesuai jadwal (termasuk vaksinasi ulang)
  • Tinggal di lingkungan dengan kebersihan rendah
  • Bepergian ke daerah endemis difteri

Diagnosis difteri

Diagnosis difteri diawali dengan menilai gejala dan tanda yang terlihat di sistem pernafasan.

Jika dicurigai adanya difteri, dokter akan melakukan usap (swab) tenggorokan atau hidung. Apabila ditemukan adanya adanya luka pada kulit yang dicurigai difteri, maka dokter akan mengambil sampel jaringan dan mencoba menumbuhkan bakteri (kultur bakteri) untuk menegakkan diagnosis.

Pengobatan difteri

Pengobatan difteri berupa pemberian antitoksin untuk menghentikan kerja racun yang dihasilkan bakteri agar tidak semakin berkembang dan merusak jaringan pada saluran pernapasan. Antibiotik juga dapat diberikan untuk membunuh bakteri penyebab difteri. Setelah 48 jam minum antibiotik, pasien sudah tidak dapat menginfeksi orang lain. Meski begitu, antibiotik harus diminum sampai habis untuk memastikan bakteri benar-benar hilang. Obat harus diminum atas anjuran dokter, penggunaan antibiotik secara mandiri sangat tidak dianjurkan.

Setelah selesai pengobatan, sampel swab akan diambil kembali untuk memastikan sudah tidak ada bakteri di pasien tersebut.

Pencegahan difteri

Vaksinasi difteri merupakan cara terbaik untuk mencegah difteri. Vaksinasi ini dapat diberikan pada anak berusia 2 bulan hingga dewasa.

Pada anak, jadwal pemberian imunisasi adalah saat ia berusia 2, 4, dan 6 bulan yang kemudian perlu diulang saat ia berusia 15-18 bulan dan usia 4-6 tahun. Setelah beranjak remaja, vaksinasi diberikan pada usia 11-12 tahun. Pada dewasa, vaksin diberikan setiap 10 tahun. Vaksin difteri biasanya sudah dikombinasi dengan vaksin pertusis dan vaksin tetanus (dikenal dengan vaksin DPT) sehingga dapat memberikan perlindungan terhadap tiga penyakit sekaligus.

Pencegahan difteri juga dapat dilakukan dengan minum antibiotik sesuai dosis yang disarankan dokter. Antibiotik hanya diberikan pada orang yang kontak erat dengan pasien difteri.

Konsultasi Gratis
Butuh rekomendasi dokter/rumah sakit, estimasi biaya berobat, dan paket medical check up untuk keluhan Anda? Hubungi Medical Consultant kami.

CDC. 2020.Diphtheria | About.
Healthline. 2018. Diphtheria.Diphtheria: Causes, Symptoms, and Diagnosis.
Mayo clinic. 2020. Diphtheria.Diphtheria - Symptoms and causes.
NHS. 2018. Diphtheria.Diphtheria.
WHO. 2018. Diphtheria.Diphtheria.


Author dr. Kezia Christy dr. Kezia Christy
Reviewed by dr. Edwin Jonathan dr. Edwin Jonathan

Nilai Artikel Ini

Artikel Terkait

Middle East Respiratory Syndrome (MERS)

MERS awalnya ditemukan di Arab Saudi pada tahun 2012, kemudian dilaporkan menyebar ke 27 negara di Baca Selengkapnya...

Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS)

SARS pertama kali dilaporkan di Guangdong, China pada tahun 2002, tetapi baru teridentifikasi pada Baca Selengkapnya...

Navigation Pengertian Gejala Penyebab Diagnosis Pengobatan Pencegahan