Seorang wanita muda sedang berdiri memakai ransel dan masker untuk mencegah infeksi Coronavirus jenis baru

Selasa, 28 Januari 2020

Mengenal Coronavirus Jenis Baru, 2019-nCoV

Wabah pneumonia berat sedang menjadi perbincangan dunia setelah pertama kali muncul pada bulan Desember tahun lalu di kota Wuhan, China. Virus penyebab wabah pneumonia berat ini telah diidentifikasi sebagai jenis coronavirus yang baru, yakni SARS-CoV-2 yang menyebabkan penyakit COVID-19. Investigasi masih terus dilakukan untuk mengetahui lebih lanjut mengenai wabah ini.

Apa Saja Gejala Infeksi COVID-19?

Waspadai tanda-tanda dan gejala infeksi COVID-19. Orang dengan gejala COVID-19 memiliki berbagai gejala yang mungkin muncul, mulai dari gejala ringan hingga parah. Gejala ini mungkin muncul 2 sampai 14 hari setelah terpapar virus. Berikut ini beberapa gejala COVID-19 yang mungkin Anda rasakan:

  • Demam atau menggigil.
  • Sesak napas atau kesulitan bernapas.
  • Batuk.
  • Diare.
  • Kelelahan.
  • Sakit kepala.
  • Sakit tenggorokan.
  • Mual atau muntah.
  • Nyeri otot atau tubuh.
  • Hidung tersumbat atau meler.
  • Kehilangan rasa atau bau baru.

Daftar di atas tidak mencakup semua kemungkinan gejala. Semua kemungkinan gejala akan terus diperbarui dengan penelitian lebih lanjut.

Orang yang berusia lebih tua berisiko lebih tinggi terkena penyakit serius akibat COVID-19 dan risikonya akan meningkat seiring bertambahnya usia. Orang yang memiliki kondisi medis kronis juga mungkin memiliki risiko lebih tinggi terkena penyakit serius. Kondisi medis tertentu yang meningkatkan risiko penyakit serius akibat terpapar COVID-19 di antaranya:

  • Penyakit jantung serius, seperti gagal jantung, penyakit arteri koroner, atau kardiomiopati.
  • Penyakit paru obstruktif kronis (PPOK).
  • Kanker.
  • Obesitas.
  • Diabetes tipe 2.
  • Penyakit sel sabit.
  • Penyakit ginjal kronis.
  • Hamil.
  • Merokok.
  • Sistem kekebalan yang melemah dari transplantasi organ padat.

Kondisi lain yang dapat meningkatkan risiko penyakit serius yaitu:

  • Asma.
  • Kegemukan.
  • Penyakit hati.
  • Diabetes tipe 1.
  • Tekanan darah tinggi.
  • Kondisi otak dan sistem saraf.
  • Penyakit paru-paru kronis, seperti cystic fibrosis atau fibrosis paru.
  • Sistem kekebalan yang melemah dari transplantasi sumsum tulang, HIV atau beberapa obat-obatan.

Kondisi medis lain yang mendasari juga dapat meningkatkan risiko penyakit serius akibat COVID-19. Hubungi dokter Anda untuk pemeriksaan lebih lanjut atau jika Anda mengalami gejala di atas, terutama jika baru-baru ini Anda kontak dengan orang yang terkonfirmasi positif COVID-19.

Bagaimana Virus Corona Menular?

Awalnya, banyak pasien pneumonia berat di Wuhan, China yang dilaporkan pernah dan/atau sering berkunjung ke pasar seafood dan hewan. Ini menunjukkan adanya kemungkinan penyebaran virus korona dari hewan ke orang. Virus ini dapat ditemukan pada hewan unta, sapi, kucing, dan kelelawar. Namun, banyak juga pasien yang dilaporkan tidak memiliki paparan ke pasar hewan sehingga mengindikasi adanya penyebaran virus dari orang ke orang.

Penularan dari orang ke orang dapat terjadi melalui percikan air ludah (droplet) penderita di udara saat batuk/bersin serta bersentuhan dengan tangan penderita atau benda yang telah terkontaminasi virus korona.

Apakah SARS-CoV-2 Sama dengan Coronavirus Penyebab SARS/MERS?

Tidak. 2019-nCoV yang baru-baru ini muncul tidak sama dengan coronavirus penyebab SARS ataupun MERS. Perlu diketahui bahwa coronavirus adalah keluarga besar virus, beberapa memang dapat menyebabkan penyakit pada manusia dan lainnya hanya bersirkulasi di antara hewan, termasuk unta, kucing, dan kelelawar.

Penyebab COVID-19

Infeksi virus corona baru (sindrom pernapasan akut parah coronavirus 2 atau SARS-CoV-2) menyebabkan penyakit coronavirus 2019 (COVID-19).

Virus yang menyebabkan COVID-19 dapat menyebar dengan mudah dari satu orang ke orang lain dan lebih banyak lagi yang terus ditemukan seiring waktu tentang bagaimana penyebarannya. Data menunjukkan bahwa penyebaran virus terutama dari orang ke orang di antara mereka yang berada dalam kontak dekat, yakni sekitar 6 kaki atau 2 meter.

Virus corona dapat menyebar melalui tetesan cairan pernapasan (droplet) yang dilepaskan ketika seseorang yang terinfeksi virus batuk, bersin, bernapas, bernyanyi, atau berbicara. Droplet ini bisa terhirup atau mendarat di mulut, hidung, atau mata orang di dekatnya.

Dalam beberapa situasi, virus corona dapat disebarkan oleh seseorang yang terpapar droplet yang kecil atau aerosol yang tetap di udara selama beberapa menit atau jam, kondisi ini disebut penularan melalui udara. Belum diketahui seberapa umum virus menyebar dengan cara ini.

Virus ini juga dapat menyebar jika seseorang menyentuh permukaan atau benda dengan virus di atasnya dan kemudian menyentuh mulut, hidung, atau matanya, meskipun ini tidak dianggap sebagai cara utama penyebarannya. Meskipun jarang, tapi beberapa infeksi ulangan virus yang menyebabkan COVID-19 mungkin terjadi.

Diagnosis COVID-19

Jika Anda mengalami gejala atau terpapar virus COVID-19, segera hubungi dokter atau penyedia layanan kesehatan. Juga beri tahu dokter jika Anda telah melakukan kontak dekat dengan siapa pun yang telah didiagnosis dengan COVID-19.

Jenis tes yang digunakan untuk mendiagnosis kemungkinan COVID-19 akan berbeda-beda, tergantung di mana Anda tinggal. Anda mungkin perlu diskrining oleh klinik untuk menentukan apakah pengujian sudah sesuai dan tersedia.

Di beberapa tempat, dokter akan menentukan apakah akan melakukan tes COVID-19 berdasarkan tanda dan gejala, serta apakah Anda telah melakukan kontak dekat dengan seseorang yang didiagnosis positif COVID-19. Dokter mungkin juga mempertimbangkan tes jika Anda berisiko tinggi terkena penyakit serius atau akan menjalani prosedur medis.

Untuk menguji virus COVID-19, penyedia layanan kesehatan akan mengambil sampel dari hidung atau tenggorokan (swab). Sampel tersebut kemudian akan dikirim ke laboratorium untuk diuji.

Pengobatan COVID-19

Tidak ada obat yang tersedia untuk COVID-19. Antibiotik tidak efektif melawan infeksi virus seperti COVID-19. Para peneliti sedang menguji berbagai kemungkinan perawatan.

Mulai 22 Oktober 2020, remdesivir, agen antivirus, adalah satu-satunya obat yang disetujui untuk pengobatan COVID-19. Obat ini diindikasikan untuk penyakit COVID-19 pada orang dewasa yang dirawat di rumah sakit dan anak-anak berusia di atas 12 tahun dengan berat badan minimal 40 kg.

Emergency use authorization (EUA) tetap diberlakukan untuk merawat pasien anak-anak dengan berat 3,5 kg hingga kurang dari 40 kg atau anak-anak di bawah 12 tahun yang beratnya minimal 3,5 kg.

Ada pun baricitinib, yaitu pil yang tampaknya bekerja melawan COVID-19 dengan mengurangi peradangan dan memiliki aktivitas antivirus. Obat ini dapat digunakan dalam kombinasi dengan remdesivir pada orang yang dirawat di rumah sakit dengan COVID-19 yang menggunakan ventilator mekanik atau membutuhkan oksigen tambahan.

Dua obat antibodi monoklonal telah menerima otorisasi penggunaan darurat dari FDA. Antibodi monoklonal adalah protein yang dibuat di laboratorium yang dapat membantu sistem kekebalan melawan virus. Obat pertama disebut bamlanivimab dan obat kedua merupakan kombinasi dua antibodi yang disebut casirivimab dan imdevimab.

Kedua obat tersebut digunakan untuk mengobati COVID-19 ringan hingga sedang pada orang yang memiliki risiko lebih tinggi terkena penyakit serius akibat COVID-19. Perawatan diberikan melalui infus intravena (IV) tunggal selama rawat jalan. Agar hasilnya lebih efektif, obat-obatan ini perlu diberikan segera setelah gejala COVID-19 dimulai dan sebelum dirawat di rumah sakit.

Cara Mencegah Infeksi COVID-19

Cegah penyebaran COVID-19 dengan menerapkan langkah-langkah di bawah ini yang dilansir dalamCenters for Disease Control and Prevention(CDC):


1. Gunakan Masker

  • Setiap orang yang berusia 2 tahun ke atas harus memakai masker saat berada di tempat umum. Jika seseorang di rumah Anda terinfeksi, orang di dalam rumah tersebut harus berhati-hati dan memakai masker agar tidak menyebar ke orang lain.
  • Mencuci tangan dengan air dan sabun atau hand sanitizer sebelum memakai masker.
  • Kenakan masker di atas hidung dan mulut Anda, lalu kencangkan di bagian bawah dagu. Namun, pastikan Anda bisa bernapas lega.


2. Mencuci Tangan

  • Sering mencuci tangan dengan sabun dan air setidaknya selama 20 detik, terutama setelah Anda berada di tempat umum atau setelah membuang ingus, batuk, atau bersin.
  • Jika sabun dan air tidak tersedia, gunakanhand sanitizeryang mengandung setidaknya 60% alkohol.
  • Hindari menyentuh mata, hidung, dan mulut Anda dengan tangan yang belum dicuci.


3. Menjaga Jarak dengan Orang Lain

  • Jaga jarak fisik sekitar 6 kaki (2 meter) dari orang lain. Hindari kontak dekat dengan orang yang sakit di rumah Anda. Jika memungkinkan, pertahankan jarak 6 kaki antara orang yang sakit dan anggota rumah lainnya. Menjaga jarak dari orang lain sangat penting, terutama bagi orang-orang yang berisiko lebih tinggi terkena sakit parah.
  • Hindari tempat ramai, seperti di restoran, bar, pusat kebugaran, atau bioskop yang membuat Anda berisiko lebih tinggi terkena COVID-19.
  • Hindari ruangan yang berventilasi buruk. Jika Anda berada di dalam ruangan, masukkan udara segar dengan membuka jendela dan pintu, jika memungkinkan.


4. Tutup Mulut dan Hidung saat Batuk dan Bersin

  • Selalu tutup mulut dan hidung Anda dengan tisu saat batuk atau bersin. Anda juga bisa menggunakan bagian dalam siku dan jangan meludah.
  • Buang tisu bekas ke tempat sampah.
  • Segera cuci tangan dengan sabun dan air minimal selama 20 detik. Jika sabun dan air tidak tersedia, bersihkan tangan Anda denganhand sanitizeryang mengandung setidaknya 60% alkohol.


5. Desinfeksi Permukaan yang Sering Disentuh

  • Bersihkan dan desinfeksi permukaan yang sering disentuh setiap hari. Ini termasuk meja, gagang pintu, saklar lampu,countertops, gagang, meja, telepon, keyboard, toilet, dan sebagainya.
  • Segera bersihkan permukaan yang kotor. Gunakan deterjen atau sabun dan air sebelum desinfeksi.


6. Memantau Kesehatan Anda Setiap Hari

  • Waspadai gejala COVID-19, seperti demam, batuk, sesak napas, atau gejala lainnya.
  • Ukur suhu tubuh Anda jika timbul gejala. Jangan mengukur suhu tubuh 30 menit setelah berolahraga atau setelah minum obat yang dapat menurunkan suhu Anda, seperti asetaminofen.


7. Dapatkan Vaksin COVID-19

  • Vaksinasi COVID-19 sangat penting, terutama bagi orang-orang yang kemungkinan besar berisiko sakit parah akibat COVID-19, seperti orang yang berusia lebih tua dan orang dengan kondisi medis tertentu.
  • Orang dengan kondisi medis yang mendasari bisa mendapatkan vaksin COVID-19 selama mereka tidak mengalami reaksi alergi yang parah atau langsung terhadap dosis pertama vaksin COVID-19 atau bahan apa pun di dalam vaksin COVID-19.

Hubungi penyedia layanan kesehatan melalui aplikasi LinkSehat di sini jika Anda atau keluarga memiliki gejala COVID-19. Atau hubungi WhatsApp kami di 0858 9000 8500 untuk mendaftar swab antigen atau swab PCR.

Medical Assistance kami siap bantu:
  • Booking tes COVID-19
  • Rekomendasi dokter atau RS
  • Buat janji dokter penyakit kronis
  • Buat janji dokter di luar negeri
  • Hitung estimasi biaya berobat
  • Mencari paket check up & bayi tabung (IVF)
Author Novi Sulistia Wati Novi Sulistia Wati
Reviewed by dr. Winner NG dr. Winner NG

Nilai Artikel Ini

Artikel Terkait

Perbedaan Rapid Test dan Swab Test atau PCR

Ada dua tes yang sering digunakan untuk mendeteksi COVID-19, yaitu rapid test dan swab test atau Baca Selengkapnya...

20 Mitos dan Fakta tentang COVID-19

Dikumpulkan dari situs resmi WHO dan informasi yang berkembang di masyarakat, berikut ini mitos dan Baca Selengkapnya...

Anosmia, Hilangnya Penciuman yang Menjadi Gejala COVID-19

Anosmia atau kehilangan penciuman sementara adalah gejala neurologis utama dan dapat menjadi salah Baca Selengkapnya...

Mengenal 6 Jenis Vaksin COVID-19 di Indonesia

Vaksinasi hanya akan dilaksanakan setelah vaksin dinyatakan aman dan ampuh serta mendapatkan izin Baca Selengkapnya...