Alat rapid test untuk skrining awal COVID-19

Senin, 13 April 2020

Seberapa Efektif Rapid Test untuk Deteksi COVID-19?

Seberapa efektif rapid test untuk mendeteksi COVID-19? Pertanyaan ini kerap muncul seiring bertambahnya kasus positif. Per 12 Februari 2020, jumlah kasus terkonfirmasi mencapai 1.191.900 kasus dengan 166.492 kasus aktif, 993.177 sembuh, dan 32.381 meninggal dunia.

Banyaknya penambahan kasus baru yang terdeteksi mungkin saja dikarenakan pemerintah telah melakukan rapid test massal sejak 20 Maret 2020 lalu. termasuk pemeriksaan terhadap orang yang tidak mengalami gejala, sehingga pada akhirnya dapat diketahui statusnya apakah positif atau tidak.

Simak informasi selengkapnya tentang rapid test di Indonesia berikut ini.

Bagaimana Rapid Test di Indonesia?

Rapid test adalah tes cepat COVID-19 dilakukan untuk mendeteksi kasus secara dini, sehingga membantu pemerintah menyusun dan melakukan tindakan yang tepat dalam upaya menghentikan penyebaran virus corona di masyarakat.

Saat ini pemerintah melaksanakan kebijakan rapid test yang dilakukan dengan mengambil sampel darah untuk melihat antibodi. Ini dikenal dengan nama rapid test antibodi.

Tidak semua orang perlu melakukan rapid test, cukup dilakukan oleh mereka yang direkomendasikan oleh petugas kesehatan setempat. Petugas kesehatan setempat akan mendatangi dari rumah ke rumah untuk menelusuri riwayat kontak erat seseorang.

Kasus positif COVID-19 masih melonjak di banyak daerah. Diharapkan dengan dilakukannya rapid test dapat memberi informasi tentang prevalensi infeksi dalam suatu populasi. Hal ini sangat penting, karena membantu pemerintah dalam mengambil tindakan yang tepat dalam menangani penyebaran wabah COVID-19 di Indonesia.

Perbedaan Rapid Test Antibodi dan Rapid Test Antigen

Pada dasarnya, saat ini ada dua jenis tes COVID-19 yang utama, yaitu tes diagnostik yang mencari infeksi virus corona aktif di dalam lendir atau air liur dan tes darah yang mencari antibodi. Berikut ini perbedaan rapid test antibodi dengan rapid test antigen.


Rapid Test Antibodi

Rapid test antibodi adalah tes untuk mendeteksi apakah seseorang memiliki respons imun (antibodi) terhadap virus. Secara umum, jika Anda terinfeksi virus, sistem kekebalan tubuh khususnya antibodi akan berusaha untuk melawannya. Tes ini dilakukan untuk mendeteksi antibodi tersebut.

Biasanya diperlukan waktu sekitar 1 minggu setelah terinfeksi agar antibodi cukup terbentuk dan dapat terdeteksi dalam darah Anda. Oleh karena itu, rapid test antibodi tidak boleh digunakan untuk mendiagnosis infeksi aktif.

Tes ini tidak dapat mendiagnosis infeksi virus corona aktif, melainkan hanya memberi tahu apakah Anda pernah terinfeksi di masa lalu, bahkan jika itu terjadi beberapa bulan yang lalu. Antibodi tidak dapat dideteksi sampai setidaknya beberapa hari setelah infeksi dimulai.


Cara Kerja Rapid Test Antibodi

Saat menjalani pemeriksaan di penyedia layanan kesehatan, perawat akan mengambil sampel darah Anda melalui tusukan jari atau pengambilan darah dari pembuluh darah di lengan Anda. Sebagian besar pengujian ini dilakukan di lab pusat dan dapat memakan waktu untuk diproses.

Terkadang tes antibodi dapat dilakukan bersamaan dengan tes virus ketika seseorang mencari perawatan lanjutan terhadap penyakitnya. Tes ini juga dapat membantu memastikan diagnosis sindrom inflamasi multisistem pada anak-anak, yaitu suatu kondisi yang terkait dengan COVID-19.


Seberapa Akurat Rapid Test Antibodi?

Rapid test antibodi berperan dalam pandemi seperti saat ini, karena dapat memberikan informasi tentang prevalensi infeksi dalam suatu populasi dan frekuensi infeksi tanpa gejala.

Disarankan melakukan tes ini setidaknya 14 hari setelah muncul gejala. Jika tes terlalu dini, sistem kekebalan Anda masih meningkatkan pertahanannya, sehingga kemungkinan tidak memberikan hasil yang akurat.


Rapid Test Antigen

Rapid test antigen adalah tes COIVD-19 yang mendeteksi potongan protein di permukaan virus yang disebut antigen. Biasanya Anda bisa mendapatkan hasil tes ini dengan cepat, karena hanya membutuhkan waktu 15 sampai 30 menit.

Namun, rapid test antigen kurang akurat dibandingkan tes PCR (swab test). Oleh karena itu, jika hasil tes antigen negatif, petugas kesehatan akan merekomendasikan tes PCR untuk mengkonfirmasi hasil tes negatif.

Rapid test antigen paling akurat jika digunakan dalam beberapa hari sejak gejala mulai muncul, yaitu saat jumlah virus terbesar ada di tubuh Anda.


Cara Kerja Rapid Test Antigen

Cara kerja rapid test antigen sama seperti tes PCR. Petugas kesehatan akan mengusap bagian belakang hidung atau tenggorokan Anda untuk mengumpulkan sampel pengujian. Metode ini dinamakan swab.

Salah satu hal yang membedakan rapid test antigen dengan tes PCR yaitu Anda bisa mendapatkan hasil tes dalam waktu 1 jam atau bahkan kurang dari 1 jam.

Beberapa tes antigen dapat dilakukan langsung di tempat penyedia layanan kesehatan, sehingga Anda tidak perlu pergi ke lab untuk melakukan pengujian.


Seberapa Akurat Rapid Test Antigen?

Rapid test antigen tidak mungkin menunjukkan hasil positif palsu jika dilakukan dengan benar. Tetapi jika Anda memiliki gejala dan hasil tes antigen memberikan hasil negatif, Anda mungkin masih memiliki COVID-19 dan mungkin memerlukan tes PCR untuk mengonfirmasi keakuratan.


Siapa yang Perlu Melakukan Rapid Test?

Rapid test dilakukan untuk mendeteksi kasus COVID-19 sejak dini, sehingga membantu pemerintah dalam melakukan tindakan yang tepat untuk mencegah penyebaran virus corona.

Orang yang perlu melakukan rapid test adalah orang yang berisiko, yaitu orang yang pernah kontak erat dengan orang yang terkonfirmasi positif COVID-19. Selain itu, orang yang pernah berada di negara atau wilayah dengan penularan lokal, serta memiliki gejala khas seperti demam atau gangguan sistem pernapasan (termasuk pilek, batuk, atau sakit tenggorokan).

Ini berarti tidak semua orang perlu melakukan rapid test, melainkan hanya perlu dilakukan oleh orang yang direkomendasikan petugas kesehatan setempat. Jadi, Anda tidak perlu melakukan rapid test jika Anda sehat dan tidak punya riwayat kontak erat dengan orang yang terkonfirmasi COVID-19 atau berada di negara atau wilayah dengan penyebaran penularan lokal.


Hasil Rapid Test

Pahami hasil rapid test antibodi:

  • Jika hasil tes positif untuk antibodi SARS-CoV-2 tetapi tidak memiliki antibodi spesifik tersebut, hasilnya adalah positif palsu.
  • Jika hasil tes negatif untuk antibodi SARS-CoV-2 tetapi memiliki antibodi spesifik tersebut, hasilnya negatif palsu.
  • Orang yang terkonfirmasi positif pada tes antibodi tetapi tidak memiliki gejala COVID-19 dan belum pernah berada di sekitar seseorang yang mungkin mengidap COVID-19 cenderung tidak mengalami infeksi saat ini.

Selain itu, Anda juga perlu memahami hasil rapid test antigen, yaitu:

  • Tes antigen menjadi tes skrining yang sangat baik untuk pasien dengan gejala awal penyakit, terutama di daerah yang sulit melakukan tes PCR dan membutuhkan waktu yang sangat lama untuk mendapatkan hasil.
  • Jika hasil tes positif, kemungkinan mungkin itu benar, karena tes antigen sangat akurat. Namun, tes ini mungkin melewatkan infeksi aktif. Jika Anda memiliki gejala COVID-19 tetapi hasil tesnya negatif, dokter mungkin tetap akan merekomendasikan tes PCR untuk mengonfirmasi hasilnya.


Seberapa Efektif Rapid Test Antibodi Dibandingkan Tes COVID-19 Lainnya?

Rapid test antibodi bekerja dengan cara mendeteksi adanya antibodi terhadap virus di dalam tubuh seseorang, tetapi tidak mendeteksi adanya antibodi penetral yang merupakan indikator terbaik bahwa seseorang terlindungi dari virus. Tes ini harus dilakukan lebih dari 14 hari setelah gejala, idealnya lebih dari sebulan kemudian.

Sekitar 95% orang yang dirawat di rumah sakit dan terkonfirmasi positif COVID-19 akan membentuk antibodi, tetapi hanya sekitar 80% yang membentuk antibodi penetral.

Tes antibodi berguna untuk orang yang memiliki gejala COVID-19 tetapi menerima hasil tes negatif untuk menentukan adanya kemungkinan menderita COVID-19 di masa lalu. Tes antibodi terutama digunakan untuk memperkirakan prevalensi COVID-19 dalam populasi tertentu, seperti:

  • Berapa proporsi yang telah terinfeksi?
  • Siapa yang mungkin masih berisiko?
  • Siapa yang mungkin menjadi donor potensial plasma konvalesen?

Rapid test gratis biasanya diberikan oleh pemerintah sesuai kriteria orang yang diprioritaskan. Jika ingin melakukan rapid test (harga mulai Rp149.000), swab antigen (harga mulai Rp249.000), atau tes PCR (harga mulai Rp900.000), Anda dapat mendaftar di rumah sakit terdekat melalui LinkSehat di sini.

Medical Assistance kami siap bantu:
  • Booking tes COVID-19
  • Rekomendasi dokter atau RS
  • Buat janji dokter penyakit kronis
  • Buat janji dokter di luar negeri
  • Hitung estimasi biaya berobat
  • Mencari paket check up & bayi tabung (IVF)

Kemenkes RI. (2020). Pedoman Pencegah dan Pengendalian Coronavirus Disease (COVID-19).
Kemenkes RI. (2020). Apa yang Harus Dilakukan Jika Hasil Rapid Test Positif?.
Kemenkes RI. (2020). Apa yang Harus Dilakukan Jika Hasil Rapid Test Negatif?.
WHO. (2020). Coronavirus Disease (COVID-19) Advice for Public.
WHO. Laboratory Testing for Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) in Suspected Human Cases.


Author Novi Sulistia Wati Novi Sulistia Wati
Reviewed by dr. Edwin Jonathan dr. Edwin Jonathan

Nilai Artikel Ini

Artikel Terkait

Perbedaan Rapid Test dan Swab Test atau PCR

Ada dua tes yang sering digunakan untuk mendeteksi COVID-19, yaitu rapid test dan swab test atau Baca Selengkapnya...

20 Mitos dan Fakta tentang COVID-19

Dikumpulkan dari situs resmi WHO dan informasi yang berkembang di masyarakat, berikut ini mitos dan Baca Selengkapnya...

Mengenal 6 Jenis Vaksin COVID-19 di Indonesia

Vaksinasi hanya akan dilaksanakan setelah vaksin dinyatakan aman dan ampuh serta mendapatkan izin Baca Selengkapnya...