Penyakit A-Z

Skizofrenia

Skizofrenia

Skizofrenia adalah suatu gangguan mental kronis yang ditandai dengan delusi, halusinasi, bicara dan perilaku yang tidak sesuai. Skizofrenia secara umum terjadi pada masa dewasa muda atau sekitar usia 20 tahun awal. Orang dengan skizofrenia sering memiliki masalah dalam bersosialisasi, dalam pekerjaan, dalam sekolah, dan dalam menjalin relasi.

Gejala atau tanda skizofrenia

Periode awal ketika gejala skizofrenia muncul disebut periode prodromal. Pada periode ini, belum ada gejala psikosis seperti halusinasi dan delusi. Periode ini dapat berlangsung selama beberapa hari, minggu, bahkan tahun. Sangat sulit menilai apakah seseorang berada dalam periode ini atau tidak karena hanya sedikit gejala atau perubahan perilaku yang muncul, seperti:

  • Sulit tidur.
  • Sulit berkonsentrasi.
  • Amarah yang meledak-ledak.
  • Menarik diri dari lingkungan sosial.
  • Perubahan pada peringkat atau prestasi di sekolah.

Gejala skizofrenia dapat semakin jelas seiring berjalannya waktu jika tidak mendapatkan penanganan yang tepat. Gejala yang muncul dapat berupa gejala positif dan gejala negatif. Gejala positif artinya muncul gejala psikosis seperti halusinasi, delusi, dan katatonik.

  • Delusi, yaitu kepercayaan yang sangat kuat akan hal salah dan tidak berdasarkan realitas, yang tidak mau dilepaskan oleh penderita, bahkan ketika fakta sudah ditunjukkan. Sebagai contoh, seseorang dengan delusi akan percaya bahwa orang lain dapat membaca pikirannya, bahwa orang lain adalah Tuhan atau setan, atau bahwa orang lain berusaha untuk menghasut pikirannya.
  • Halusinasi, yaitu sensasi yang tidak nyata. Halusinasi dapat berupa pendengaran, penciuman, penglihatan, atau bahkan sensasi disentuh pada kulit meskipun tidak ada yang menyentuh. Halusinasi dengar merupakan jenis halusinasi yang paling sering ditemukan pada penderita skizofrenia. Halusinasi suara tersebut dapat menyuruh penderita melakukan sesuatu, menghina, atau bahkan mengajak penderita bercakap-cakap.
  • Katatonik. Pada kondisi ini, penderita tidak mau berbicara dan tubuhnya diam dalam satu posisi untuk waktu yang sangat lama.

Sedangkan gejala negatif artinya berkurang atau hilangnya perilaku normal pada penderita skizofrenia. Contoh gejala negatif adalah:

  • Berkurangnya motivasi.
  • Berkurangnya kebersihan diri sendiri.
  • Tidak memiliki kesenangan dalam hidup.
  • Menjadi pendiam dan kurang mau berbicara.
  • Kurang bertenaga dalam melakukan segala hal.
  • Menarik diri dari keluarga, teman, atau aktifitas sosial.
  • Berkurangnya kemampuan untuk menunjukkan emosi.

Selain itu, terdapat gejala yang berhubungan dengan fungsi kognitif, yaitu:

  • Tidak dapat membuat keputusan.
  • Sulit untuk mencerna sebuah informasi.
  • Mudah lupa dan selalu kehilangan barang.
  • Mengulang-ulang gerakan atau gestur tubuh.
  • Sulit untuk memberikan perhatian penuh dan berkonsentrasi.
  • Bicara dalam kalimat yang tidak masuk akal, sulit berkomunikasi.

Dokter spesialis untuk skizofrenia

Jika Anda telah didiagnosis dengan skizofrenia, dokter Anda mungkin akan merujuk Anda kepada dokter spesialis yang biasa menangani kasus ini, yaitu dokter spesialis kesehatan jiwa (psikiater). Selain itu, bantuan dari psikolog juga dibutuhkan untuk menangani kasus skizofrenia ini.

Untuk buat janji bertemu atau konsultasi dokter online (Telekonsultasi), di dalam atau luar negeri, gunakan aplikasi LinkSehat. Download Sekarang.

Kapan harus konsultasi ke dokter?

Jika Anda menemukan orang atau anggota keluarga dengan gejala awal skizofrenia atau bahkan sudah mengalami gejala psikosis, segeralah berkonsultasi dengan dokter spesialis yang berpengalaman untuk mendapatkan penanganan yang efektif.

Biaya berobat skizofrenia

Biaya pengobatan skizofrenia tergantung pada kondisi pasien, jenis tindakan medis yang dilakukan serta pilihan rumah sakit yang dapat dituju. Untuk perkiraan biaya pengobatan skizofrenia di dalam atau luar negeri, hubungi Medical Assistance di aplikasi LinkSehat.Download Sekarang.

Penyebab skizofrenia

Penyebab pasti skizofrenia belum diketahui. Namun sama seperti penyakit kanker dan diabetes, skizofrenia merupakan sebuah penyakit yang diakibatkan karena adanya gangguan terhadap fungsi yang berjalan dalam tubuh.

Semua orang dapat mengalami skizofrenia, dari berbagai usia, ras, dan budaya. Terdapat beberapa faktor yang diduga meningkatkan risiko seseorang terkena skizofrenia, yaitu:

  • Genetik (diturunkan). Skizofrenia dapat diturunkan dalam keluarga.
  • Zat kimia di otak yang disebutneurotransmitterstidak dapat bekerja dengan normal sehingga menyebabkan fungsi berpikir dan berperilaku menjadi terganggu.
  • Kelainan struktur otak juga dapat menyebabkan seseorang mengalami skizofrenia. Namun tidak semua penderita skizofrenia mengalami kelainan struktur otak.
  • Lingkungan seperti infeksi virus, paparan terhadap zat beracun seperti mariyuana, situasi penuh tekanan, perubahan fisik dan hormon saat memasuki masa pubertas dapat memicu terjadinya skizofrenia pada beberapa orang.

Diagnosis skizofrenia

Untuk mendiagnosis skizofrenia, dokter akan melakukan wawancara secara rinci mengenai keluhan atau gejala yang dirasakan. Selain itu, dokter juga mungkin akan menanyakan mengenai riwayat kesehatan dalam keluarga, apakah ada yang mengalami skizofrenia, apakah ada yang pernah dirawat di rumah sakit karena kondisi mental, dan pertanyaan lain untuk melihat apakah terdapat faktor genetik. Dokter juga akan menanyakan gejala dari gangguan mental lainnya untuk menyingkirkan diagnosis.

Berdasarkan DSM-5 kriteria skizofrenia adalah munculnya 2 atau lebih gejala di bawah dalam jangka waktu 1 bulan (atau kurang jika berhasil diobati), dan beberapa gangguan mental lebih dari 6 bulan :

  • Delusi.
  • Halusinasi.
  • Perkataan yang tidak terarah.
  • Perilaku katatonik, hiperaktif, atau aneh (tidak lazim).
  • Gejala negatif.

Setelah wawancara, dokter juga akan melakukan pemeriksaan fisik dan psikologis. Jika diagnosis masih belum dapat ditegakkan, dokter mungkin akan meminta Anda untuk menjalani beberapa pemeriksaan penunjang, seperti:

  • Tes personalitas.
  • CT scan atau MRI, untuk menyingkirkan kemungkinan adanya masalah lain, seperti tumor otak.
  • Tes darah dan urin, untuk memastikan bahwa alkohol dan konsumsi obat-obatan terlarang bukan penyebab gejala yang muncul.

Cara mengobati skizofrenia

Tujuan pengobatan skizofrenia adalah untuk mengurangi gejala yang muncul dan mengurangi kemungkinan kambuhnya gejala psikosis. Penderita skizofrenia membutuhkan pengobatan seumur hidup.

Pilihan pengobatan skizofrenia antara lain:

1. Obat-obatan

Obat-obatan utama yang digunakan untuk skizofrenia disebut obat-obatan antipsikotik. Obat-obatan ini tidak menyembuhkan skizofrenia, namun dapat membantu meringankan gejala yang mengganggu, termasuk delusi, halusinasi, dan gangguan berpikir. Obat antipsikotik bukanlah merupakan satu-satunya pengobatan yang dibutuhkan penderita skizofrenia. Bersamaan dengan obat-obatan ini, psikoterapi dan dukungan dari orang-orang terdekat dapat membantu penderita.

2. Coordinated specialty care (CSC)

CSC adalah istilah untuk perawatan kombinasi dari obat-obatan dan terapi sosial. Pada perawatan ini dibutuhkan kerja sama dengan keluarga penderita.

3. Terapi psikososial

Beberapa terapi psikososial bertujuan untuk membantu masalah perilaku, psikologi, sosial, dan okupasi. Melalui terapi ini, penderita dapat mengontrol gejala yang muncul, mengidentifikasi tanda bahaya jika gejala kambuh, dan mencegah kekambuhan gejala. Terapi psikososial antara lain:

  • Rehabilitasi.
  • Terapi keluarga.
  • Psikoterapi secara individu.
  • Terapi kelompok (support group).

4. Rawat inap

Beberapa penderita skizofrenia dapat diobati dengan rawat jalan. Namun, beberapa penderita harus dirawat inap, yaitu:

  • Gejala yang berat
  • Penderita yang mungkin membahayakan diri sendiri atau orang lain
  • Tidak ada yang dapat merawat di rumah.

5. Electroconvulsive therapy (ECT)

Pada prosedur ini, beberapa alat disebut elektroda ditaruh pada tulang kepala penderita. Kemudian pasien ditidurkan dengan bius umum, sementara dokter mengirimkan sinyal elektrik pada otak. Setiap sinyal elektrik ini dapat merangsang neurotransmitters di otak dan membantu mengurangi kekambuhan gejala. Namun, terapi ECT ini belum sepenuhnya dimengerti.

Bisakah skizofrenia disembuhkan?

Skizofrenia merupakan gangguan yang tidak dapat seketika disembuhkan, namun dapat dikontrol dengan pengobatan yang tepat. Bila terkontrol, seorang penderita skizofrenia dapat memiliki hidup yang lebih produktif, dapat berelasi dengan keluarga dan komunitasnya.

Cara mencegah skizofrenia

Tidak ada cara pasti untuk mencegah skizofrenia. Namun dengan diagnosis yang cepat ditegakkan dan pengobatan yang tepat, kekambuhan skizofrenia dapat berkurang dan gangguan terhadap kehidupan seorang penderita dapat diatasi.

Cara merawat pasien skizofrenia di rumah

Merawat penderita skizofrenia di rumah merupakan sebuah tantangan. Namun perlu diketahui bahwa penderita skizofrenia umumnya tidak membahayakan, bahkan sebaliknya mereka cenderung menarik diri dari sosial. Bila mereka menunjukkan perilaku yang berbahaya, terkadang itu adalah hasil dari gejala psikosisnya.

Penderita skizofrenia tidak dapat dipaksa untuk berobat atau meminum obat. Namun, Anda dapat menawarkan dukungan dan mencarikan dokter atau tenaga profesional yang dapat membantu mengevaluasi kondisi mereka.

Pada beberapa kasus dimana penderita membahayakan diri sendiri atau orang lain, perawatan inap mungkin diperlukan. Hubungi rumah sakit dengan unit gawat darurat terdekat bila penderita mengancam atau mencoba untuk melakukan bunuh diri.

Konsultasi Gratis
Butuh rekomendasi dokter/rumah sakit, estimasi biaya berobat, dan paket medical check up untuk keluhan Anda? Hubungi Medical Consultant kami.
Author dr. Nathania Tjuwatja dr. Nathania Tjuwatja
Reviewed by dr. Winner NG dr. Winner NG

Nilai Artikel Ini

Artikel Terkait

Depresi

Depresi bukan hanya memengaruhi suasana hati, melainkan juga cara berpikir dan bertindak Baca Selengkapnya...

Demensia

Penyakit demensia tidak dapat disembuhkan, tetapi ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk Baca Selengkapnya...

Navigation Pengertian Gejala Penyebab Diagnosis Pengobatan Pencegahan