Mengenal Jenis Vaksin COVID-19 dan Efek Samping serta Efektivitasnya

Senin, 07 Juni 2021

Mengenal Jenis Vaksin COVID-19 dan Efek Samping serta Efektivitasnya

Link Sehat - Pandemi COVID-19 yang sudah berlangsung sejak Desember 2020 lalu telah menimbulkan banyak korban. Untuk mencegah penularan dan penyebaran COVID-19, serta mencapai herd immunity, vaksin COVID-19 mulai didistribusikan.

Saat ini vaksin COVID-19 seperti Sinovac dan AstraZeneca sudah mulai diberikan kepada masyarakat luas, setelah sebelumnya hanya difokuskan pada kelompok prioritas saja.

Apa saja jenis vaksin COVID-19 yang digunakan di Indonesia?

Kementerian Kesehatan telah menetapkan 6 jenis vaksin COVID-19 yang dapat digunakan untuk pelaksanaan vaksinasi di Indonesia. Keenam vaksin tersebut diproduksi dari berbagai negara dan hanya akan dilaksanakan setelah vaksin dinyatakan aman dan ampuh serta mendapatkan izin edar atau persetujuan penggunaan darurat oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

1. Sinovac

Sinovac atau CoronaVac adalah vaksin buatan perusahaan biofarmasi Sinovac Biotech Ltd. yang berbasis di Beijing, China. Vaksin ini bekerja menggunakan partikel virus yang tidak aktif untuk memperkenalkan sistem kekebalan tubuh terhadap virus tanpa menimbulkan risiko penyakit serius. 

Badan Pengawas Obat dan Makanan (POM) telah mengeluarkan sertifikasi Emergency Use of Authorization (EUA) dan sertifikasi Halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) berdasarkan fatwa No. 2 Tahun 2021 untuk vaksin Sinovac. Keamanan vaksin Sinovac sudah dipastikan dan Presiden Joko Widodo menjadi orang pertama yang menerima suntikan vaksin Sinovac pada hari Rabu (13/1/2021) yang disiarkan secara langsung.

Vaksin diberikan sebanyak dua dosis. Dosis kedua diberikan 28 hari setelah suntikan pertama. Kementerian Kesehatan RI telah menginformasikan bahwa vaksin Sinovac efektif dalam mencegah COVID-19 bergejala (94%), perawatan (96%), hingga kematian (98%) pada orang yang telah mendapatkan dosis lengkap.

2. AstraZeneca

AstraZeneca adalah vaksin yang dibuat dari versi lemah dari virus flu biasa atau yang dikenal sebagai adenovirus dari simpanse. Virus tersebut telah dimodifikasi agar lebih mirip virus Corona meski tidak bisa menyebabkan penyakit. 

Ketika vaksin AstraZeneca disuntikkan ke pasien, vaksin akan mendorong sistem kekebalan untuk mulai membuat antibodi dan menyerang infeksi virus corona. Penelitian telah menunjukkan bahwa AstraZeneca sangat efektif. Vaksin akan diberikan sebanyak dua dosis, dengan dosis kedua pada 12 minggu setelah suntikan pertama.

Vaksin AstraZeneca telah terbukti aman dan memicu respons kekebalan pada orang-orang dari segala usia, termasuk di atas 55 tahun. Peserta uji coba diberi rejimen dosis yang berbeda. Medicines and Healthcare products Regulatory Agency (MHRA) menyetujui penggunaan dua dosis lengkap vaksin AstraZeneca  dengan tingkat efikasi sekitar 62%.

3. Sinopharm

Sinopharm Group adalah perusahaan farmasi di China. Anak perusahaan vaksin dan biosains Sinopharm adalah China National Biotech Group Co Ltd (CNBG). Vaksin Sinopharm telah disetujui untuk penggunaan darurat di beberapa negara dan perusahaan telah melakukan uji klinis tahap akhir di 10 negara termasuk Argentina, UEA, dan Maroko.

Sama seperti Sinovac dan AstraZeneca, vaksin Sinopharm juga diberikan sebanyak dua dosis, dengan dosis kedua pada 21 hari setelah suntikan pertama. Studi terbaru mengklaim bahwa efikasi Sinopharm mencapai 72,8% dan 78,1% untuk mencegah infeksi yang bergejala.

4. Pfizer

Vaksin mRNA Pfizer-BioNTech COVID-19 (Tozinameran atau BNT162b2) digunakan untuk mencegah penyebaran COVID-19. Vaksin ini disetujui untuk orang yang berusia 16 tahun ke atas, karena keamanan dan efektivitasnya pada orang yang berusia di bawah 16 tahun belum ditetapkan.

Vaksin Pfizer-BioNTech COVID-19 diproduksi oleh Pfizer Canada ULC dan BioNTech Manufacturing GmbH. Pfizer adalah produsen vaksin multinasional yang terbukti andal, memasok vaksin ke lebih dari 165 negara. Berdasarkan bukti dari uji klinis, efikasi vaksin Pfizer-BioNTech mencapai angka 95% untuk mencegah penyakit COVID-19 yang dikonfirmasi di laboratorium pada orang tanpa bukti infeksi sebelumnya.

5. Moderna  

Vaksin Moderna akan memberikan kekebalan dari penyakit COVID-19 setidaknya selama satu tahun. Berdasarkan bukti dari uji klinis, vaksin Moderna 94,1% efektif untuk mencegah COVID-19 yang dikonfirmasi di laboratorium pada orang yang menerima dua dosis dan tidak memiliki bukti terinfeksi sebelumnya. Sebuah studi terbaru di US mengklaim bahwa vaksin Moderna terbukti efektif untuk remaja berusia 12-17 tahun pada uji klinis. Efikasi vaksin mencapai 100% untuk mencegah COVID-19 bergejala yang terhitung sejak 14 hari setelah dosis ke-2 diberikan. Namun dikarenakan kasus COVID-19 pada usia remaja sulit untuk ditemukan, maka berdasarkan kriteria dari CDC mengenai COVID-19 pada usia remaja, maka efikasi vaksin adalah 93% setelah vaksin yang pertama diberikan.

6. PT Bio Farma 

Indonesia akan memproduksi vaksin sendiri pada tahun 2022. Project Integration Manager R&D PT Bio Farma, Neni Nurainy, mengatakan sebagai langkah awal perusahaan akan melaksanakan penyediaan vaksin jangka pendek dengan cara menjalin kerja sama dengan Sinovac Biotech Ltd dari China. Beliau mengatakan Indonesia diuntungkan dari kerja sama dengan Sinovac, karena mendapatkan bantuan teknologi mulai September 2020 hingga Januari 2021. Sehingga Indonesia dapat mengandalkan produksi vaksin dalam negeri, yakni vaksin Merah Putih pada tahun 2022.

Apakah vaksin COVID-19 aman?

Vaksin COVID-19 yang diproduksi massal sudah melewati proses penelitian yang sangat panjang dan harus memenuhi syarat utama, yakni aman, ampuh, stabil, dan efisien dari segi biaya sebelum dibagikan kepada masyarakat luas.

Keamanan vaksin COVID-19 sudah dipastikan melalui beberapa tahap uji klinis yang benar dan menjunjung tinggi kaidah ilmu pengetahuan, sains, dan standar kesehatan. Segala sesuatunya sudah dipertimbangkan. 

Pemerintah hanya menyediakan vaksin COVID-19 yang sudah terbukti aman dan lolos uji klinis, serta sudah mendapatkan Emergency Use of Authorization (EUA) dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Kenapa harus mendapatkan vaksin COVID-19?

Vaksin COVID-19 dapat menurunkan risiko mengalami COVID-19 berat, rawat inap, masuk ICU (intensive care unit), dan meninggal dunia. Berikut ini keuntungan mendapatkan vaksin COVID-19 yang dilansir dalam Centers for Disease Control and Prevention (CDC):

  • Membantu mencegah Anda tertular COVID-19.
  • Cara yang aman untuk membantu membangun perlindungan.
  • Membantu mencegah Anda mengalami sakit parah saat Anda tertular COVID-19.
  • Melindungi orang-orang di sekitar Anda, terutama orang-orang yang berisiko tinggi terkena penyakit parah akibat COVID-19. Jika Anda sakit, Anda dapat menularkan penyakit tersebut kepada teman, keluarga, dan orang lain di sekitar Anda.
  • Membantu melindungi Anda dengan menciptakan respons antibodi tanpa harus mengalami sakit. Berbeda dengan kekebalan alami tubuh saat tertular COVID-19. 

Berapa lama perlindungan vaksin COVID-19 dapat bertahan?

Studi terbaru menunjukkan bahwa kekebalan terhadap COVID-19 tetap muncul dan dapat bertahan lama hingga 11 bulan meskipun hanya mengalami infeksi ringan sekalipun. Kekebalan yang ada meliputi antibodi, sel B memori (penghasil antibodi), dan sel plasma di sumsum tulang. Namun, berapa lama perlindungan yang diberikan oleh vaksin Covid-19 sampai saat ini masih belum menghasilkan jawaban, masih diperlukan studi lebih lanjut mengenai hal ini.

Adakah efek samping vaksin COVID-19?

Secara umum, efek samping vaksin COVID-19 yang muncul mungkin beragam. Umumnya ringan, bersifat sementara, dan tidak selalu muncul, tergantung pada kondisi tubuh masing-masing individu. Efek samping ringan setelah mendapatkan vaksin yaitu mungkin terjadi demam, nyeri otot, atau ruam kemerahan pada bekas suntikan. Oleh karena itu, setelah dilakukan penyuntikan vaksin, Anda diharapkan untuk tetap tinggal di tempat pelayanan vaksinasi selama 30 menit untuk memantau efek samping yang terjadi.

Efek samping vaksin COVID-19 yang berat dapat terdeteksi melalui tahapan pengembangan dan pengujian vaksin, sehingga dapat dievaluasi lebih lanjut. Vaksin COVID-19 menawarkan lebih banyak manfaat daripada risiko sakit, karena vaksin bertujuan untuk memberikan kekebalan spesifik terhadap COVID-19.

Apakah boleh lepas masker setelah vaksinasi COVID-19?

Vaksin tidak ampuh 100% untuk membuat Anda kebal dari COVID-19. Namun, vaksin dapat mengurangi dampak yang ditimbulkan jika Anda tertular COVID-19. Oleh sebab itu, meskipun Anda sudah diberi vaksin, Anda tetap harus memakai masker, jaga jarak, dan rajin cuci tangan pakai sabun. Dengan kata lain, protokol kesehatan yang sudah ada selama ini harus tetap dijalankan.

Apa itu efikasi dan efektivitas vaksin COVID-19?

Efikasi dan efektivitas vaksin adalah ukuran yang membandingkan tingkat penyakit antara orang yang divaksin dan yang tidak divaksinasi. Efikasi diukur dalam uji klinis terkontrol, sedangkan efektivitas diukur setelah vaksin disetujui untuk digunakan pada populasi umum. Ini membantu mengidentifikasi proporsi orang yang divaksinasi dapat dilindungi oleh vaksin.

Apabila Anda memiliki pertanyaan seputar vaksin COVID-19 atau memiliki gejala mirip COVID-19, jangan ragu untuk Konsultasi Dokter Online di aplikasi LinkSehat. Download Sekarang. Atau jika Anda ingin memeriksa titer antibodi yang terbentuk setelah vaksinasi COVID-19, daftar tes antibodi serologi pasca vaksinasi COVID-19 di LinkSehat (harga mulai Rp140.000 melalui WhatsApp 0858 9000 8500.

Medical Assistance kami siap bantu:
  • Booking tes COVID-19
  • Rekomendasi dokter atau RS
  • Buat janji dokter penyakit kronis
  • Buat janji dokter di luar negeri
  • Hitung estimasi biaya berobat
  • Mencari paket check up & bayi tabung (IVF)


Reviewed by dr. Edwin Jonathan dr. Edwin Jonathan

Nilai Artikel Ini

Artikel Terkait

20 Mitos dan Fakta tentang COVID-19

Dikumpulkan dari situs resmi WHO dan informasi yang berkembang di masyarakat, berikut ini mitos dan Baca Selengkapnya...

Ini Perbedaan dan Efektivitas Rapid Test, Swab Antigen dan PCR

Berikut adalah penjelasan lengkap mengenai Rapid Test, Swab Antigen dan PCR beserta dengan perbedaan Baca Selengkapnya...

Telemedicine dan Obat Gratis Isoman COVID-19 Kemenkes

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI telah resmi bekerja sama dengan 11 platform telemedicine untuk Baca Selengkapnya...