Post-Traumatic Stress Disorder

Kamis, 19 November 2020

Post-Traumatic Stress Disorder

Post-traumatic stress disorder adalah gangguan psikologis yang disebabkan karena peristiwa traumatis seperti korban selamat bencana alam, saksi kecelakaan, korban dan pelecehan seksual.

PTSD dulunya disebut sebagai shell shock (sebutan PTSD setelah perang dunia I) dancombat fatigue (sebutan PTSD setelah perang dunia ke II). Peristiwa traumatis tersebut bisa dialami sendiri atau jika melihat secara langsung.

Ciri khas dari PTSD yaitu adanya flashback mengenai kejadian tersebut. Ingatan mengenai kejadian traumatis bisa muncul saat melakukan aktivitas, di saat tidur berupa mimpi, bisa teringat dan terbayang kejadian tersebut yang membuat rasa cemas. Hal tersebut bisa membuat pasien dengan PTSD menjauhi hal tertentu yang mengingatkan pasien dengan kejadian traumatis. Jika rasa cemas dan flashback dialami lebih dari 1 bulan, maka bisa disebut dengan PTSD.

Gejala atau tanda PTSD

Gejala PTSD bisa muncul dan berlangsung dalam hitungan bulan bahkan tahun setelah kejadian traumatis. Gejala PTSD bisa berdampak pada aktivitas sehari-hari kualitas pekerjaan, bisa pula berdampak pada kehidupan sosial dan dalam hubungan. Gejala PTSD dibagi menjadi 4 tipe, yaitu:

  • Menjauhi hal tertentu seperti menghindari membicarakan kejadian traumatis, menghindari tempat, aktivitas atau orang tertentu yang mengingatkan pada kejadian traumatis
  • Ingatan yang mengganggu mengenai kejadian traumatis dan muncul berulang ulang. Bisa berupaflashback, mimpi buruk, atau kejadian sehari-hari yang dapat mengingatkan pasien dengan kejadian traumatis.
  • Perubahan negatif pada pikiran dan suasana hati seperti putus asa pada masa depan, intimidasi diri, gangguan ingatan termasuk gangguan ingatan traumatis, kesulitan membangun hubungan yang dekat, dan merasa bukan bagian dari keluarga atau teman.
  • Perubahan emosi dan perilaku seperti mudah terkejut atau takut, selalu waspada, perilaku membahayakan diri sendiri seperti mabuk atau berkendara dengan kecepatan tinggi, gangguan tidur, gangguan berkonsentrasi, mudah marah, rasa bersalah, dan malu.

Dokter spesialis untuk PTSD

Anda dapat berkonsultasi dengan dokter spesialis kesehatan jiwa atau psikiatri jika memiliki gejala PTSD setelah kejadian traumatis.

Jika ingin buat janji konsultasi online atau rawat jalan di dalam atau luar negeri, gunakan aplikasi LinkSehat. Download sekarang.

Kapan harus konsultasi ke dokter

Konsultasikan dengan dokter spesialis kesehatan jiwa jika Anda memiliki gejala PTSD setelah kejadian traumatis tertentu yang mengganggu aktivitas sehari-hari. Semakin cepat didiagnosa, maka semakin cepat dapat dilakukan pengobatan agar gejala tidak semakin buruk.

Segera konsultasikan dengan dokter atau datang ke unit gawat darurat rumah sakit (UGD) jika pasien memiliki perilaku agresif seperti mengamuk, merusak barang bahkan percobaan bunuh diri.

Biaya berobat PTSD

Besaran biaya pengobatan PTSD tergantung pada kondisi pasien, jenis tindakan medis yang dilakukan serta pilihan rumah sakit. Untuk perkiraan biaya pengobatan PTSD di dalam atau luar negeri, gunakan aplikasi LinkSehat. Download sekarang.

Penyebab PTSD

Tidak semua kejadian traumatis akan menyebabkan PTSD. Hal tersebut dipengaruhi oleh kemampuan seseorang dalam mengatasi suatu masalah (coping mechanism). Dipengaruhi juga oleh faktor lainnya seperti adanya pengalaman traumatis lainnya, riwayat keluarga gangguan kejiwaan seperti gangguan cemas dan depresi, serta gangguan regulasi hormon dan zat kimia pada otak saat stress.

Terdapat beberapa faktor risiko yang menyebabkan PTSD yaitu:

  • Kecanduan obat atau alkohol.
  • Lingkungan keluarga atau teman yang kurang mendukung.
  • Memiliki trauma sebelumnya atau trauma yang masih terus berlangsung.
  • Memiliki gangguan kejiwaan lainnya seperti gangguan cemas atau depresi.
  • Bekerja di bidang yang berisiko memiliki kejadian traumatis seperti sebagai tentara, pemadam kebakaran, dan lainnya.

Peristiwa atau kejadian traumatis yang dapat menyebabkan PTSD bisa berupa kejadian perang, kekerasan fisik saat anak-anak, pelecehan seksual, diancam dengan senjata, kebakaran, penculikan, perampokan, kecelakaan, dan lainnya.

Komplikasi PTSD

Komplikasi PTSD yang terberat yaitu percobaan bunuh diri. Hal ini masuk dalam kegawatdaruratan dalam kedokteran bagian kejiwaan. Komplikasi lainnya yang juga berbahaya yaitu timbulnya gangguan cemas dan depresi, kecanduan obat atau alkohol, dan gangguan makan.

Diagnosis PTSD

Diagnosis PTSD dilakukan setelah dokter mengumpulkanriwayat perjalanan penyakitdanpemeriksaan fisik. Diagnosis PTSD dan gangguan jiwa lainnya yaitu berdasarkandiagnostic and statistical manual of mental disorders (DSM-5).

PTSD harus didahului dengan adanya kejadian traumatis yang bisa mengancam nyawa. Kejadian tersebut bisa dialami sendiri oleh pasien, bisa juga kejadian yang secara langsung dilihat oleh pasien, terpapar secara terus menerus dengan kejadian (contohnya pekerjaan tentara), atau dari pengalaman teman/ saudara yang mengalami kejadian traumatis. Diagnosis PTSD yaitu jika gejala menetap selama lebih dari 1 bulan setelah kejadian traumatis.

Cara mengobati PTSD

Mengobati PTSD bertujuan untuk mengembalikan kemampuan pengendalian diri pasien terhadap emosi dan perilaku, mengubah cara memandang diri sendiri atau lingkungan dan dunia. Pengobatan bisa berupa psikoterapi dan obat. Biasanya dokter spesialis jiwa akan mengkombinasikan kedua pengobatan tersebut.

Psikoterapi dibagi menjadi beberapa cara yaitu terapi kognisi, terapi paparan dan terapieye movement desensitization and reprocessing (EMDR). Terapi kognisi berupa pengobatan yang membantu pasien mengenal dan mengubah cara berpikir mengenai kejadian traumatis menjadi segi positif.

Terapi paparan berupa pengobatan yang memberikan paparan pada pasien (bisa berupa gambar atau video atau suara) untuk membantu pasien dalam menghadapi kejadian traumatis.

EMDR yaitu pengobatan kompleks yang bertujuan membantu pasien dalam memproses dan menghadapi ingatan kejadian traumatis. Obat yang bisa diberikan yaitu obat anti depresi, dan obat anti cemas, namun penggunaan obat-obatan harus dilakukan atas anjuran dokter.

Bisakah PTSD disembuhkan?

Bisa dengan panduan dokter spesialis kesehatan jiwa.

Berapa lama waktu untuk sembuh dari PTSD?

Sangat beragam tergantung dari respon pasien terhadap pengobatan. Untuk beberapa orang, PTSD sembuh dalam 6 bulan. Sebagian lainnya sembuh lebih dari 6 bulan.

Cara mencegah PTSD

Mencegah PTSD yaitu dengan mencari pertolongan pada ahlinya dan dukungan untuk mencegah memburuknya gejala sehingga berkembang menjadi PTSD.

Setelah kejadian traumatis tentu secara normal manusia akan takut, cemas, dan terbayang bayang dengan kejadian tersebut. Namun dengan mencari pertolongan, bimbingan dari ahlinya serta dukungan dari keluarga dan teman, kejadian traumatis bisa dilalui sehingga tidak berkembang menjadi PTSD.

Cara merawat pasien PTSD di rumah

Merawat pasien PTSD di rumah yaitu dengan mengikuti jadwal pengobatan secara teratur, serta tetap terhubung dengan komunitas yang mendukung perkembangan pasien. Jangan menghentikan pengobatan dan berusaha mencari pengobatan sendiri karena dapat mengganggu proses penyembuhan. Jangan mengalihkan PTSD dengan konsumsi alkohol atau obat narkotika karena tidak akan mengatasi PTSD. Pengawas pasien di rumah berperan dalam memantau pasien agar tidak ada tindakan percobaan bunuh diri dan memberikan dukungan untuk pasien.

Konsultasi Gratis
Butuh rekomendasi dokter/rumah sakit, estimasi biaya berobat, dan paket medical check up untuk keluhan Anda? Hubungi Medical Consultant kami.


Author dr. Kezia Christy dr. Kezia Christy
Reviewed by dr. Edwin Jonathan dr. Edwin Jonathan

Nilai Artikel Ini

Artikel Terkait

Depresi

Depresi bukan hanya memengaruhi suasana hati, melainkan juga cara berpikir dan bertindak Baca Selengkapnya...

Demensia

Penyakit demensia tidak dapat disembuhkan, tetapi ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk Baca Selengkapnya...

Skizofrenia

Orang dengan skizofrenia sering memiliki masalah dalam bersosialisasi, dalam pekerjaan, dalam Baca Selengkapnya...

Psikosis

Anak muda biasanya lebih berisiko memiliki psikosis, meski hingga kini belum diketahui penyebab Baca Selengkapnya...