5 Kelompok yang Tidak Dianjurkan Mendapat Vaksin COVID-19

Selasa, 02 Maret 2021

5 Kelompok yang Tidak Dianjurkan Mendapat Vaksin COVID-19

Gelombang awal pemberian vaksin COVID-19 untuk kelompok tertentu sudah mulai dilakukan di Indonesia. Namun, ada beberapa kelompok yang tidak dianjurkan menerima vaksin COVID-19. Ada banyak alasan yang mendasari, terutama demi menjaga kesehatan tubuh secara keseluruhan dan meminimalisir risiko berbahaya. 

Siapa saja kelompok yang tidak dianjurkan vaksin COVID-19 dan apa alasannya? Mari simak selengkapnya di bawah ini atau hubungi dokter Anda melalui aplikasi LinkSehat. 

Bagaimana Cara Mengetahui Keamanan Vaksin COVID-19?

Anda mungkin membutuhkan banyak pertimbangan sebelum mendapatkan vaksin COVID-19. Penting untuk dicatat bahwa aman bukan berarti tidak memiliki efek samping sama sekali. 

Megan Ranney, MD, MPH, seorang dokter dan direktur dari Brown-Lifespan Center for Digital Health di Brown University, menyampaikan dalam Health, vaksin dianggap aman jika tidak menyebabkan kejadian buruk yang serius. Sedangkan vaksin yang tidak aman adalah vaksin yang menyebabkan kerusakan permanen atau serius. Hal ini mencakup perubahan kesuburan, menyebabkan masalah neurologis, atau menyebabkan infeksi baru. 

Efek samping ringan yang mungkin menyertai vaksin virus corona yaitu kelelahan, sakit kepala, atau nyeri lengan. Namun Anda tidak perlu khawatir, karena ini adalah salah satu cara demi menghindari gejala dan risiko COVID-19 yang lebih serius. 

Vaksin mRNA mungkin lebih aman daripada vaksin tradisional, karena tidak mengandung alergen umum, seperti telur atau logam, yang dapat memberikan kesempatan lebih bagi lebih banyak orang yang harus melupakan vaksinasi di masa lalu. 

Kelompok yang Tidak Dianjurkan Vaksin COVID-19

Penting bagi Anda untuk mengetahui siapa saja yang dianjurkan dan tidak dianjurkan divaksinasi. Berikut ini kelompok yang tidak dianjurkan mendapat vaksin COVID-19 beserta alasannya. 

1. Orang yang memiliki alergi

Centers for Disease Control and Prevention (CDC) mendapatkan laporan bahwa beberapa orang mengalami reaksi alergi yang parah setelah mendapatkan vaksin COVID-19. Kondisi ini dikenal sebagai anafilaksis. 

Chief of pediatric infectious diseases at University of California Davis, Dr. Dean Blumberg, mengatakan dalam Healthline, ada beberapa pasien yang mengalami reaksi alergi dan itu selalu mengkhawatirkan. Reaksi ini tidak umum, tetapi anafilaksis sangat berbahaya dan mengancam nyawa. 

Berikut ini kelompok orang yang memiliki alergi dan tidak dianjurkan mendapat vaksin COVID-19:

  • Orang yang mengalami reaksi alergi parah terhadap jenis vaksin lain atau terapi suntik lain harus berbicara dengan dokter untuk mencari tahu langkah terbaik yang harus dilakukan. 
  • Jika seseorang mengalami reaksi alergi yang parah terhadap suntikan pertama vaksin COVID-19, sebaiknya mereka tidak mendapatkan suntikan kedua.
  • Orang yang memiliki riwayat reaksi alergi parah yang tidak terkait dengan vaksinasi (seperti makanan, racun, hewan peliharaan, atau lateks) masih bisa mendapatkan vaksinasi.
  • Orang yang tidak memiliki riwayat reaksi alergi parah akan dipantau selama kurang lebih 30 menit setelah vaksinasi. Sebaiknya mereka yang memiliki riwayat reaksi alergi parah tetap diamati dua kali lipat dari waktu tersebut.

2. Ibu hamil atau menyusui

Belum ada data tentang keamanan vaksin COVID-19 pada orang hamil. Berdasarkan pengetahuan saat ini, para ahli percaya bahwa vaksin mRNA tidak menimbulkan risiko bagi ibu hamil atau janin yang ada di dalam kandungannya. 

Jika ibu hamil adalah bagian dari kelompok yang direkomendasikan untuk menerima vaksin COVID-19, misalnya tenaga kesehatan, mereka dapat memilih untuk divaksinasi. Namun, di negara tertentu ada yang melarang ibu hamil divaksinasi. Sebaiknya bicarakan dengan dokter spesialis kandungan Anda untuk informasi lebih lanjut. 

Ibu hamil memiliki peningkatan risiko penyakit parah dengan COVID-19 dan mungkin berisiko tinggi mengalami komplikasi dalam kehamilan. 

Meskipun belum banyak data yang membuktikan, tapi vaksin dipercaya dapat melindungi ibu hamil dari peningkatan risiko akibat COVID-19. Dari sini dapat terlihat bahwa manfaat vaksinasi lebih besar daripada risikonya. 

Belum ada data mengenai keamanan vaksin COVID-19 pada ibu yang sedang menyusui atau efek vaksin COVID-19 pada bayi yang disusui atau produksi ekskresi ASI. 

Vaksin tidak dianggap berisiko bagi bayi yang menyusui. Orang yang menyusui yang merupakan bagian dari kelompok yang direkomendasikan untuk menerima vaksin COVID-19, misalnya tenaga kesehatan, dapat memilih untuk divaksinasi.

3. Orang yang terkonfirmasi positif COVID-19

Hasil uji klinis menunjukkan bahwa vaksin COVID-19 aman untuk orang yang telah terinfeksi COVID-19. Sebaiknya pemberian vaksin ditunda sampai orang tersebut pulih dari penyakit akut dan telah memenuhi semua kriteria untuk menghentikan isolasi di rumah sakit atau isolasi mandiri. 

Namun, bagi orang yang pernah menerima terapi antibodi untuk COVID-19, keadaannya sedikit berbeda. Saat ini, tidak ada data tentang keamanan dan kemanjuran vaksin COVID-19 pada orang yang menerima antibodi monoklonal atau plasma konvalesen sebagai bagian dari pengobatan COVID-19. 

Berdasarkan perkiraan waktu terapi tersebut dan bukti yang menunjukkan bahwa infeksi ulang jarang terjadi dalam 90 hari setelah infeksi awal, vaksinasi harus ditunda setidaknya selama 90 hari. Ini dilakukan sebagai tindakan untuk menghindari potensi gangguan terapi antibodi dengan respons imun yang diinduksi oleh vaksin. 

Anjuran ini berlaku untuk orang yang melakukan imunisasi pasif sebelum menerima dosis vaksin apa pun dan orang yang menerima imunisasi pasif setelah dosis pertama tetapi sebelum dosis kedua. Dalam hal ini dosis kedua harus ditunda setidaknya selama 90 hari setelah menerima dosis vaksin.

4. Orang dengan kondisi medis yang mendasari

Uji klinis menunjukkan bahwa efektivitas dan keamanan vaksin bagi orang yang memiliki kondisi medis mendasari sama dengan orang yang tidak memiliki kondisi tersebut. 

Orang yang memiliki kondisi medis yang mendasari dapat menerima vaksin dengan aman jika mereka tidak memiliki kontraindikasi terhadap vaksinasi.

Belum ada data tentang pasien dengan gangguan kekebalan atau pasien HIV. Pasien dengan gangguan kekebalan dan pasien yang terinfeksi HIV kemungkinan besar berisiko tinggi terkena COVID-19 dengan gejala yang parah, jadi kelompok ini masih dapat menerima vaksin.

Anda dapat mendiskusikannya dengan penyedia layanan kesehatan sebelum mendapatkan vaksin. Jika dilihat secara keseluruhan, manfaat vaksin lebih besar daripada risikonya bangi orang dengan kondisi medis yang mendasari. 

Mungkin vaksin COVID-19 tidak bekerja dengan baik pada orang dengan gangguan kekebalan. Tapi jika tidak sakit, mungkin bisa membantu. 

Belum ada data yang tersedia tentang keamanan vaksinasi COVID-19 pada orang dengan kondisi autoimun, tetapi orang dengan kondisi autoimun yang tidak memiliki kontraindikasi lain masih memungkinkan menerima vaksin.

Selama uji klinis untuk vaksin Moderna dan Pfizer, terdapat kasus peserta yang mengalami Bell's palsy setelah divaksinasi. Bell's palsy menyebabkan kelumpuhan sementara atau kelemahan pada otot wajah. Namun, belum dapat disimpulkan bahwa kasus ini terkait dengan vaksinasi.

Sedikit berbeda dengan situasi di Indonesia, saat ini Indonesia menggunakan vaksin CoronaVac buatan Sinovac. Berikut rekomendasi dari Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia mengenai kondisi yang BELUM LAYAK menerima vaksinasi CoronaVac terkait penyakit yang mendasari / komorbid :

  • Reaksi alergi berupa anafilaksis dan reaksi alergi berat akibat vaksin Coronavac dosis pertama ataupun akibat dari komponen yang sama yang terkandung pada vaksin Coronavac. 
  • Penyakit autoimun sistemik, seperti Systemic Lupus Erythematosus (SLE), Sjogren, Rheumatoid Arthritis, Vaskulitis. Khusus untuk tiroid autoimun, penyakit autoimun hematologi dan inflammatory bowel disease (lBD) layak vaksinasi selama remisi dan terkontrol, konsultasikan dengan dokter di bidang terkait. 
  • Individu yang sedang mengalami infeksi akut. Jika infeksinya sudah teratasi maka dapat dilakukan vaksinasi Coronavac. Pada infeksi TB, pengobatan OAT perlu minimal 2 minggu untuk layak vaksinasi. 
  • Kanker darah, kanker tumor padat, kelainan darah seperti thalasemia, imunohematologi, hemofilia, gangguan koagulasi maka kelayakan dari individu dengan kondisi ini ditentukan oleh dokter ahli di bidang terkait, konsultasikan terlebih dahulu sebelum pemberian vaksin Coronavac. lndividu yang menggunakan obat imunosupresan, sitostatika dan radioterapi. 
  • Penyakit kronik (seperti PPOK dan asma, penyakit jantung, penyakit metabolik, hipertensi, gangguan ginjal) yang sedang dalam kondisi akut atau yang belum terkendali

5. Anak-anak dan Remaja

Kelompok yang tidak dianjurkan vaksin COVID-19 yang berikutnya adalah anak-anak dan remaja. Vaksin Moderna diizinkan untuk digunakan pada orang berusia 18 tahun ke atas dan vaksin Pfizer diizinkan untuk digunakan pada orang berusia 16 tahun ke atas.

Saat ini, vaksin COVID-19 belum diteliti pada anak-anak. Kelompok anak-anak dan remaja tidak berwenang untuk menerima vaksinasi tersebut.

Uji coba berikutnya akan segera dimulai untuk mendapatkan informasi tentang keamanan dan kemanjuran vaksinasi pada anak-anak yang diharapkan tersedia pada pertengahan musim panas.

Hubungi penyedia layanan kesehatan melalui aplikasi LinkSehat jika Anda memiliki gejala COVID-19 dan ingin menjalani tes atau mendapat perawatan segera. LinkSehat akan membantu Anda mencari rumah sakit  atau klinik yang menyediakan tes COVID-19. Download Sekarang.

Medical Assistance kami siap bantu:
  • Booking tes COVID-19
  • Rekomendasi dokter atau RS
  • Buat janji dokter penyakit kronis
  • Buat janji dokter di luar negeri
  • Hitung estimasi biaya berobat
  • Mencari paket check up & bayi tabung (IVF)
Author Tim LinkSehat Tim LinkSehat
Reviewed by dr. Edwin Jonathan dr. Edwin Jonathan

Nilai Artikel Ini

Artikel Terkait

Mengenal 6 Jenis Vaksin COVID-19 di Indonesia

Vaksinasi hanya akan dilaksanakan setelah vaksin dinyatakan aman dan ampuh serta mendapatkan izin Baca Selengkapnya...

Keamanan Vaksin COVID-19: Manfaat dan Efek Samping

Ada banyak hal yang mungkin Anda pertimbangkan sebelum mendapatkan vaksin COVID-19, terutama tentang Baca Selengkapnya...

Perbedaan Efikasi dan Efektivitas Vaksin COVID-19

Efikasi dan efektivitas vaksin merupakan dua hal yang berbeda.